1.27.2013

JAKARTA FLOOD

Selamat malam.

Sudah lama aku tidak bercerita dengan menggunakan bahasaku sendiri. Oleh karena itu, mungkin post ini akan sedikit kedengaran tidak nyambung, dan aku terlalu malas untuk melakukan penyuntingan.

Jakarta dilanda bencana banjir yang besar dan bertebar di berbagai daerah. Lebih dari sekitar 18 ribuan warga tercatat mengungsi. Posko-posko bantuan di berbagai lokasi pun didirikan dan media komunikasi diramaikan oleh ajakan organisasi non-profit & peduli masyarakat untuk orang-orang yang beruntung, yang tidak terkena bencana tersebut, agar maju menjadi relawan, atau setidaknya menyalurkan bantuan dalam bentuk biaya dan perlengkapan umum yang dibutuhkan.

Rumah nenekku yang kutinggali semasa aku berkuliah di Jakarta pun terkena banjir. Airnya bahkan menembus masuk ke dalam rumah. Pada saat itu terjadi, aku sedang berada di kampus karena mengikuti ujian remedial. Aku tidak tidur pada malam sebelumnya karena membekali otakku dengan materi yang akan ditanyakan pada remedial (meskipun aku sedikit mengeskpektasi ujian remedial itu mengandung soal yang sama dengan ujian sebelumnya, dan ternyata memang 80% dari soal-soalnya sama), dan memang sejak jam 2 dini pagi hingga aku berangkat ke kampus, hujan tidak pernah berhenti. Alhasil, saat aku berangkat, jalanan di depan rumah nenekku sudah dibanjiri air hujan sebatas mata kaki (mata kaki orang dewasa, maksudku), itupun hujan masih terus mengalir tanpa ampun. Aku pun bingung, aku naik apa ke kampus? Biasanya aku menumpangi mikrolet yang memang jalurnya melewati persis depan rumahku, lalu aku lanjut dengan menaiki angkot. Tapi tak pernah kulakukan hal tersebut dalam kondisi hujan dan banjir seperti ini. Baru kali ini aku dihadapi dengan kondisi cuaca ini. Pilihan lainnya adalah naik ojek. Tak mungkin juga. Aku akan basah kuyup setibaku di kampus. Melihat kebingungan di raut wajahku, Mbak Pur, pembantu nenek yang berasal dari Jawa Tengah dan sangat berbaik hati, memanggil bajaj untukku. Aku ingat sekali pemandangan suram yang kulintasi saat menuju kampus pada hari itu. Langit mendung, hujan deras tak henti, air hujan yang membanjiri ibu kota kejam itu seperti membentuk Sungai Amazon. Ya, aku seolah-olah mengendarai bajaj di tengah Sungai Amazon. Sialnya, bajaj itu macet di tengah perjalanan. Untung saja tukang bajajnya saat itu bertekad keras dan langsung berinisiatif memperbaiki mesinnya dengan seluruh tenaga maskulinnya. Dan tekadnya tidak sia-sia, meskipun telah memakan lebih dari 10 menit dan selama itu aku menggigit jari, memikirkan konsekuensi-konsekuensi mengerikan yang akan kuhadapi jika aku telat hadir remedial. Tukang bajaj itu pun aku beri ongkos lebih atas usahanya yang patut dihargai (ia sangat beruntung, karena biasanya aku pelit dalam memberi ongkos).

Setiba di kampus, aku melihat air juga membentuk kolam sebatas mata kaki sepanjang lorong menuju ruang ujian. Pada hari itu, ujianku mulai 2 jam lebih telat dari waktu yang sudah ditetapkan. Dan alhamdulilah, puji syukur kehadirat Allah yang Maha Pengampun, aku lulus.

Selesai remedial, aku dikabari tanteku yang juga menempati rumah nenekku melalui SMS bahwa rumah kena banjir dan airnya mencapai setinggi paha (paha orang dewasa, maksudku) dan aku dianjurkan untuk tidak pulang terlebih dahulu. Aku tercengang. Aku belum pernah melihat rumah nenekku berubah jadi kolam sedalam itu. Aku ingin pulang segera untuk menyaksikan dan mengabadikannya. Meskipun hal ini merugikan (tidak sepenuhnya, sih), tapi ibuku selalu berkata, kita harus menerima dengan lapang dada. Perjalanan pulang ke rumah pasti dihalangi banjir juga, menurut beberapa sumber saat itu. Jadi aku memutuskan untuk menahan hasrat untuk pulang, setidaknya tunggu air yang menerobos rumah surut.

Aku berdiri di tengah jembatan penyebrang dan melihat pemandangan jalanan yang basah dan suasana mendung Jakarta. Aku tahu, pemandangan jalanan yang tidak tampak depan mataku saat itu berada dalam kondisi yang lebih parah. Lalu, pelan-pelan.. perasaan tidak enak menyelimuti hatiku. Perasaan yang tak kusangka sedang ku rasakan. Aku sadar, aku turut sedih melihat Jakarta menangis. Aku tidak pernah merasa betah berada di Jakarta. Mudah ditebak, alasanku mungkin berupa alasan-alasan yang sudah sering diungkapkan oleh mereka yang sudah mengalami kehidupan di Jakarta. Hectic. Polusi. Macet. Padat. Berisik. Tidak Aman. Jerawatan. Dan seribu alasan lainnya. Aku sudah mengeluh berulang kali dengan berbagai orang yang cukup toleran dalam bertahan mendengar keluh kesahku. Yang tidak kusadari dan mungkin penyebab dari rasa sedih itu adalah.. aku sudah terlanjur jatuh cinta dengan kota ini. Aku sudah terbiasa dengan segala hal yang awalnya bikin aku muak. Tapi di tengah proses adaptasi tersebut, pada titik tertentu, aku telah memutuskan untuk memberikan senyum terbaikku setiap pagi dalam perjalanan ke kampus. Entah mengapa aku tiba-tiba berkepikiran seperti itu. Mungkin disebabkan oleh faktor agama, yang mendorong seorang Muslim agar selalu bersemangat mengejar ilmu, atau mungkin aku terlalu banyak membaca cerita inspiratif yang mengajak engkau untuk menghayati dan menghargai setiap momen yang sedang dilewati karena momen-momen tersebut tidak akan kembali. Mungkin juga dua-duanya. Yang jelas, aku sudah mencintai Jakarta. Aku menerima segala kelebihan dan kekurangannya.



1.13.2013

GRANDMA AT THE PLAYGROUND

Good afternoon.

For years of blogging, till now, I still have no clue to who I am writing this. But writing has been giving me a personal satisfaction. And that is enough to make me return to this spot.

I'm now in my 3rd semester break. I still cant enjoy my holiday 'cause I have a remedial coming up this week. I should really be studying now (a sentence that still comes out of my mouth since... I was a school kid. Guess I haven't changed that much). But I suddenly remember this blog and I'm still an impulsive person.

Last year, I spent the semester break in Cairo. Not gonna do that this year 'cause of financial planning for my fourth year. I'm not... even sure if I'll be seeing my family this year, but I'll keep hoping that a miracle happens.

Mak Cia had recently been admitted to the hospital. She fell on her knees while there was flood. Indonesia has been raining mercilessly throughout December and January. Being the hard worker she is, Mak Cia wanted to give a hand to her children and grandchildren who were sweeping the water into the holes. But the tragic thing happened instead and she sobbed like a little girl. I know, it must've hurt real bad. It hurt that day but the next morning the pain was gone already. Until it reached the fourth or fifth day, I don't remember exactly, that the pain hit her again but only on her right knee. I bought her analgesics and anti-inflammatory drugs by her request but I was so sure that the trauma had caused complication that wasn't enough to be handled by Ponst*n or Cat*flam.

Mak Cia, being the oldest and most experienced in the house, rarely listens to her chidren's or grandchildren's suggestions. She doesn't like to be directed or advised, even if it was for her health's sake. The whole people in the house had tried to convince her on to visiting the doctor and she had been refusing until the pain became unbearable for her on the 7th day.

Mak Cia stayed in the hospital for 6 nights and 7 days. I accompanied her in the last 5 nights because, well, everyone else was working and everyone seemed to think that it was okay to leave her with the nurses at the hospital (the nurses were all nice and caring but you can't really depend them on taking care of your grandma). The struggle was looking for food. I was always hungry and all that was available were gerobak food, a cafe that only served food till 2 pm, and an Indomart. Anyways, I became addicted to the gerobak food that sold sate ayam, even though at first I was reluctant on buying one due to the hygienic factor, but screw it I was starving.

Since I'm a medical student, being in the hospital feels like being in a playground. I observed the whole activities of the health workers, how they changed the intravenous sack, how they help Mak Cia pee on her bed, how they put and replace her bandage, how they talk and thought of how they should talk, how they applied NaCl and compressed the injured part with Betadine, etc. The doctors only occasionally paid a visit. So most of my observations were on the nurses' jobs. Personally, I think before becoming a doctor, I should be able to do the nurse's jobs, though many of my college mates disagree on that.

Mak Cia was diagnosed to have an osteoarthritis, an inflammation of the joint. She's back home now, and she's learned to next time consider the words we say to her because we care.