3.31.2013

01:28 AM

Me: "Ahmad gimana kabarnya?"
Ahmad: "Alhamdulilah deg-degan."
...just a short conversation with my little brother who's all thankful that his heart is still beating.

EAT, PRAY, LOVE

"To have issues with boundaries, one must have boundaries in the first place, right? But I disappear into the person I love. I am the permeable membrane. If I love you, you can have everything. You can have my time, my devotion, my ass, my money, my family, my dog, my dog’s money, my dog’s time—everything. If I love you, I will carry for you all your pain, I will assume for you all your debts (in every definition of the word), I will protect you from your own insecurity, I will project upon you all sorts of good qualities that you have never actually cultivated in yourself and I will buy Christmas presents for your entire family. I will give you the sun and the rain, and if they are not available, I will give you a sun check and a rain check. I will give you all this and more, until I get so exhausted and depleted that the only way I can recover my energy is by becoming infatuated with someone else."

3.26.2013

"STRANGERS: RELATIVES YOU HAVEN'T MET"

Selamat malam, layar iPadku yang berbungkus casing pink.

Kau sudah mengenal persis diriku seperti apa. Aku impulsif, ekspresif, dan aku menyukai jus belimbing. Oke, mungkin mengenai kesukaanku terhadap jus belimbing adalah berita baru bagimu. Tapi, intinya, kau sudah tau kan sekarang? Yang jelas kau sudah tahu, aku kadang terlalu menghayati perasaan yang aku alami ketika melalui kejadian-kejadian dalam hidupku, yang mungkin tidak begitu signifikan bagi orang-orang di sekitarku. Dan karena itu, aku selalu kembali kesini, bercerita.

Aku telah menemukan kembali rasa kebersamaan yang tulus, di tengah orang-orang yang sebelumnya tidak pernah kuduga bisa dekat denganku.

Mungkin pada hari-hari sebelumnya, aku berpikir kita memiliki tujuan yang sama, sehingga mau tak mau kita harus menyatu untuk mencapai tujuan itu. Tapi saat ini, jujur, aku berpikir sebaliknya: tak apa jika kita tidak dapat mencapai tujuan tersebut (dengan catatan: sudah berjamaah berusaha), asalkan kita tetap bersatu, bersama-sama.

Baiklah. Aku sudah terdengar lebay dan dramatis bak drama-drama yang didubbing itu.

Intinya, di luar dugaanku, aku sudah merasa nyaman dengan mereka. Mereka yang memiliki keunikan yang berbeda, namun memiliki atribut yang sama: tangguh, berani, dan mandiri. Mereka sudah melihat diriku dalam keadaan kusut dan kusam, mencium bau keringatku yang asam, mendengarkan diriku mengutuk dan mengungkapkan kata-kata kasar dengan suara yang menggelegar, menyaksikan aku, mahasiswa FKUI tingkat II, tidak mampu menjawab pertanyaan tentang apa yang dimaksud dengan airway positioning, bahkan memaklumi kemampuanku dalam berbahasa Indonesia, yang dinilai sangat lemah, sampai-sampai aku ditertawakan mereka karena tidak mengetahui makna kata 'janggal'.

Manusia makhluk sosial; hidup harus saling menyokong. Kesimpulannya, kita tidak dapat menjalani segala hal tanpa bantuan orang lain, maka itu kita harus meminta bantuan. Namun, yang diminta bantuan berarti harus ikhlas menolong, bukan? Aku baru sadar bahwa kita harus berani membuka hati, membantu dengan lapang dada dan ketulusan yang dalam. Hanya dengan itu, kita bisa merasakan indahnya berjuang bersama.

Terima kasih, ya Allah. Engkau telah menganugerahkan aku keluarga baru, di saat aku jauh dari keluargaku. Sungguh, Engkau Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang.




3.24.2013

12.39

I know it's late, and I'm breaking the ground rule of not getting enough rest and I'm endangering my body's homeostasis. I need a moment to write this. An important transitional phase of my life.

I may not be able to completely reveal the change. It'll need work, patience, determination, action, and therefore, it requires time.

Time. Not a single, delayed second went by. Time still frequently amazes me. How fast it went, and how slow it took for me to realize the drastic changes.

There was an incident yesterday, that made me think of what I've learned as a medical student for the past 1.5 years in the uni. And to be honest, that incident only proved what a complete waste of 1.5 years I've spent for not being able to answer "What do you mean by airway positioning?". That very moment, I went through a plenty of emotions: curiosity, stress, confusion, shame, and ultimately, disappointment. Even the physical punishment for not being able to answer it couldn't relieve my disappointment, towards myself.

I'm starting to doubt whether I've chosen the write path. The future, visible in my eyes, seem to be very distant. Almost out of reach. Unless I make a significant change. Also, unless He has written so.

***

Today was Baba's birthday. I almost forgot. I called him and congratulated him, but his reply was.. that he also had forgotten his birthday. He's 51. And he says he's too old to remember. Sadness crept inside of me and I couldn't really pinpoint the reason. 

Probably, the fact that he's older applies to the cells in his body getting weaker to function, the point that he's a frequent smoker worsens the fact. He's healthy, but degenerative diseases may hit him at his current age. 

Another reason might be.. the reality that he forgot only depicts how he's giving his mind and energy entirely for work. Baba loves his job not because of what he does at the office, but because of the friends he has. Besides, his work is not always exciting for him, and I know that he deals with many stress and pressure because he carries major responsibilities and people rely on him. It's hard for me to accept that because I don't like seeing him all tired and exhausted, but at the same time, I respect his performance, driven by motivation sourced from endless family demands. A family that he loves and wants to satisfy.

Most probably, I just miss him. And I can't afford losing him. The one person who accepts me, just the way I am. Baba is always there. For both, my basic and selfish needs. 

Baba is human. And so, I understand that he has to return to Him one day. And so, I also understand how I cannot always depend on him. I can only pray, ya Allah, when the day comes, please please, I beg you.. ya Allah, please do not punish Baba, for the selfish, thoughtless and ill-mannered sins I've done. For he has carried out his job of being a good father, and with all his energy, he's still struggling for that.



3.17.2013

Hai...

Aku terlalu ceroboh, kartu ATMku hilang.
Aku terlalu ceroboh, membiarkan hati ini.. hhhh.
Intinya aku ceroboh.

Hari ini aku senang tapi bimbang. Karena kesenangan ini tidak akan berlangsung lama.

3.13.2013

SEBUAH CATATAN YANG HARUS KUBACA DI MASA DEPAN

Selamat siang menjelang sore.

Ingin rasanya mencatat segala sesuatu yang terjadi dalam hidupku saat ini karena semuanya hanya berlangsung untuk sementara dalam sekejap kedipan mata (yang berbulu lentik, cetar membahana). Tapi tampaknya terlalu banyak yang terjadi, dan semakin banyak kejadian yang berlangsung semakin banyak pula porsi waktu yang terpakai, dan karena semakin banyak porsi waktu dan tenaga yang terpakai dalam menyaksikan/melibatkan diri di kegiatan-kegiatan tersebut, waktu dan tenaga yang sekelumit tersisa pun kupakai untuk amunisasi diri. Wahai jiwaku yang dahulu dan di masa yang akan datang, ketahuilah bahwa diriku saat ini sangat lemah dan kebo. Semakin tua, semestinya semakin bisa menahan nafsu untuk terlelap, tetapi kenyataannya adalah sebaliknya. Aku tidak mengerti lagi dengan diriku sendiri (baca: "gw gak ngerti lagi sama diri gw").

Mama dan Baba berpesan, sebelum keberangkatanku ke tanah air untuk menjalani pendidikan perguruan tinggi, agar tidak terlalu aktif dalam berbagai kegiatan organisasi intrakampus maupun ekstrakampus, apalagi jika hal itu mengakibatkan urusan akademikku terbengkalai. Mereka bahkan sebelumnya tidak mendukung keinginanku untuk menjadi bagian sebuah badan intrakampus, meskipun dulu Baba berkesempatan mengetuai sebuah lembaga kemahasiswaan pada masa mudanya. Aku tahu mereka khawatir atas konsekuensi yang terjadi jika aku gagal mengatur waktuku sendiri dan konsekuensi tersebut hanya akan merepotkan mereka karena harus lebih menguras keringat untuk mencari rezeki demi kontinuitas statusku sebagai mahasiswa aktif dalam kampus yang prestisius ini. Meskipun sebenarnya, aku tahu itu bukan alasan utamanya. Mereka tidak hanya ingin aku lulus dan memperoleh ijazah begitu saja, mereka bermimpi melihatku lebih dari itu; bahwa investasi pendidikanku yang relatif tidak murah, tidak hanya menghasilkan sosok individu yang cerdas dan berilmu dalam diriku, namun juga hati yang berempati dan karakter berprinsip moral yang tinggi.

Mungkin mereka tidak mengatakannya kepadaku terang-terangan, tapi aku sudah dididik oleh mereka sehingga aku memandangnya seperti itu. Setidaknya, jika kelak aku diberkahi seorang buah hati, kemungkinan besar begitulah harapanku sebagai orangtua. InsyaAllah.

Dengan sedikit penyesalan karena tidak sepenuhnya mematuhi perkataan mereka, aku mengaku saat ini aku adalah pengurus dua badan intrakampus dan calon anggota tim bantuan medis kampusku. Sebelum bergabung, aku memang sudah menjalani kuliah seperti apa yang Mama dan Baba inginkan; aku menjadi mahasiswa kupu-kupu (mahasiswa yang indah nan anggun seperti kupu-kupu, ihiy), alias kuliah-pulang kuliah-pulang. Entah mengapa istilah itu masih terdengar sangat aneh di telingaku. Saat itu, aku juga memang sudah merasa terbebani dengan kegiatan akademik dan sempat terheran-heran oleh teman-temanku yang masih bisa mengemban kegiatan organisasi. Lalu karena aku manusia, aku pun berfikir, jika rutinitasku begini-begini saja, bagaimana bisa aku mengembangkan kepribadianku? Aku harus berinteraksi dengan sekitarku, berkenalan dengan orang-orang dengan persepsi kehidupan yang berbeda dan memperluas wawasanku. Aku juga mengaku, langkah tersebut susah untuk kuderapkan, karena sejujurnya aku takut. Aku takut berurusan dengan manusia yang kadang-kadang tak bisa kutebak, takut bertanggungjawab karena takut gagal, takut IPku jadi jelek, ya, intinya aku penakut. Tapi aku menyadari jika aku tak berani mengambil risiko, aku tetap akan menjadi penakut. Aku memang akan menjadi brilian karena selain ber-Tumblr ria aku akan belajar terus menerus seakan-akan kesurupuan arwahnya Galen.

Tetapi jika kubayangkan kelak diriku telah menjadi dokter (Amien), pekerjaanku akan selalu berhubungan dengan manusia, bukan benda mati. Jika memang aku pintar, akan kusebutkan 1001 pengobatan yang pasienku bebas memilih untuk penyembuhannya. Tapi apa yang bisa kulakukan jika dari 1001 pengobatan tidak ada yang cocok baginya, atau bertentangan dengan prinsip budaya atau agamanya, atau jika dia galau karena bingung memilih yang mana di antara 1001 pilihan itu? (Baiklah, 1001 pilihan obat itu overrated). Aku tidak akan tahu bagaimana mengakalinya dan meyakinkannya jika aku tidak bisa membaca jiwanya, tidak bisa mentolerir dirinya karena adanya perbedaan persepsi kehidupan dan keyakinan, dan tidak bisa memahaminya secara personal.

Kita memang hidup di zaman yang sudah berkembang. Jika kau ditinggal oleh pasangan yang semulanya kau kira, he's the one, tapi ternyata he's.. gone, lalu kau sakit kepala, kau tinggal ke apotek saja dan beli.... Apa sih obat pusing? *google dulu* ...bercanda, tentu saja aku tau. Aspirin, misalnya. Atau over-the-counter drugs yang lain. Teratasi kan sakit kepalamu? Kau bahkan bisa saja jatuh cinta dengan apoteker itu.

WHO, ilmuwan, peneliti, dokter, profesor, dan orang-orang brilian lainnya memang sudah banyak sekali berkontribusi kepada kemajuan yang pesat dalam bidang kesehatan. Tetapi meskipun begitu, tidak semua penyakit dapat ditanggulangi seperti kasus pusing itu. Bahkan, penyakit-penyakit seperti beberapa jenis kanker, AIDS, sirosis hati, Ebola, dan.. beberapa penyakit lainnya yang belum pernah kau dengar, dan tidak dapat aku eja, belum ditemukannya obat yang benar-benar bisa memulihkan pengidapnya. Sebenarnya, tak usah jauh-jauh memikirkan penyakit-penyakit itu. Ketika ada pasien yang sakit, dokter memang akan berusaha menyembuhkannya dengan seluruh ilmu dan tenaga yang dimilikinya, sesuai dengan sumpahnya. Namun usaha seorang dokter terbatas, dan hasil atau outcome itu tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya; karena dokter, seperti pasiennya, hanya sebatas manusia. Dan manusia memiliki keterbatasan. Namun, jika dokter sudah tidak dapat mengobati, kewajiban yang harus dilaksanakannya sebagai manusia adalah menenangkan dan menentramkan pasiennya. Bukan dengan anastesi/obat sedatif, tetapi dengan kata-kata dan perbuatan yang menjunjung semangat untuk tetap berjuang dalam kehidupan, tetap berpegangan kepada harapan. Maka itulah dr. Edward Trudeau menyatakan, mengenai peran dokter sesungguhnya: "to cure sometimes, to relieve often, to comfort always."

Hal-hal yang mengeratkan hubungan kemanusiaan: empati, tanggungjawab, kepedulian, dan lain-lain, lebih baik jika kita tanamkan dalam diri kita sejak dini. Dan untuk menerapkannya, kenapa harus menunggu hingga waktunya berhadapan dengan pasien? Sudah semestinya kita mulai dengan diri kita sendiri, lalu keluarga, lalu teman, hingga masyarakat. Melibatkan diri dalam kegiatan organisasi memang memberi peluang untuk mempraktekkan hal-hal tersebut, tetapi kita harus senantiasa mengingat kewajiban kita: yaitu belajar (which is, sesuatu yang harusnya kulakukan saat ini). Dan kita tetap wajib melakukannya sepanjang hayat, seumur hidup.

Aku memang banyak bacot. Karena sejujurnya, aku belum bisa menerapkan yang telah kusebut dengan diriku sendiri karena kamarku masih berantakan dan aku butuh ke Ace Hardware, aku masih suka lupa/sengaja melewati makan malam/siang/sarapan (tetapi aku bersumpah, aku tidak pernah skip tiga-tiganya sekaligus), IPku saat ini menurun, aku masih sering mengecewakan orang-orang terdekat di sekitarku, dan... aku hanya akan mempermalukan diriku jika aku jabarkan seluruh kekuranganku.

Tetapi jika kau mendoakanku agar aku menjadi dokter, siapapun dirimu, aku berani berjanji akan berusaha menjalani profesiku dengan prinsip tugas dokter yang telah dikemukakan oleh dr. Trudeau. Karena aku tidak lagi takut untuk mengambil risiko; aku tidak takut membiarkan diriku berkembang.