11.27.2013

FREEDOM

Malam ini Karina sedang duduk di tempat tidur sambil memangku laptop, posisi yang sebenarnya sangat tidak dianjurkan bagi kaum lelaki karena panas yang ditransfer dari mesin yang diletakkan di atas pangkuan akan menjalar ke bagian tubuh terdekat, yang dalam kasus lelaki, adalah scrotum. Testis, sih, lebih tepatnya (karena scrotum merupakan kemasan luarnya testis).
Ya, terus kenapa? Testis gue tambah hot dong?
Secara harfiah, ya, tambah panas. Perlu diketahui bahwa testis Anda, wahai kaum lelaki, memerlukan suhu yang tidak panas (di bawah 37°C) untuk bisa memproduksi berjuta-juta sel unik yang merupakan calon-calon bibit unggul penerus generasi Anda, yaitu sperma. Itulah sebabnya posisi anatomis atau posisi normal testis anda terletak di luar tubuh, bukan bagian dari perut, paha, apalagi kepala. Karena jika testis adalah bagian dari internal organs (organ-organ dalam), yang suhunya mencapai 37°C (suhu tubuh manusia), maka testis akan memiliki suhu yang jauh dari derajat suhu optimalnya untuk bisa menjalankan fungsi jantannya.
Intinya jika Anda adalah pria yang tidak begitu tampan dan menginginkan anak suatu hari, sebaiknya sering-sering saja letakkan laptop di pangkuan Anda sehingga Anda tidak akan perlu melahirkan anak yang kemungkinan juga tidak begitu tampan, karena Anda tidak akan mampu. Kecuali Tuhan berkehendak lain, tentu saja.
Entah kenapa Karina menulis tentang itu, padahal sebenarnya ingin membicarakan hal lain. Ya sudah.
Sering sekali Karina ingin mencari arti dari kata ‘Kebebasan’. Apakah yang orang maksud ketika mereka mengklaim diri mereka bebas? Atau ketika mereka menuntut kebebasan, apakah sebenarnya yang mereka tuntut?
Kalau waktu kecil, mungkin makna yang Karina tangkap ketika mendengar seseorang berkata ‘Aku bebas’ adalah, oh, dia baru saja keluar dari penjara. Terus, saat menduduki bangku SMP dan mempelajari sejarah, Karina memandang orang-orang yang menuntut kebebasan adalah mereka yang berusaha keras ingin melepas dari status perbudakan, seperti yang terjadi pada orang-orang negro Afrika di Amerika. Dan juga Dobby, si peri yang berpenampilan aneh di Harry Potter yang diperbudak oleh Bapaknya Draco Malfoy (kebetulan juga aku mulai menggemari Harry Potter saat masih SMP, tapi sebenarnya ini off topic).
Lalu pas SMA, aku baru mengetahui tentang eksistensi signifikan sebuah buku yang bernama Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), dan disitulah aku membaca definisi dari kata ‘bebas’, yang berbunyi,
bebas /be·bas/ /b├ębas/ a 1 lepas sama sekali (tidak terhalang, terganggu, dsb sehingga dapat bergerak, berbicara, berbuat, dsb dng leluasa)2 lepas dr (kewajiban, tuntutan, perasaan takut, dsb); 3 tidak dikenakan (pajak, hukuman, dsb); tidak terikat atau terbatas oleh aturan dsb; 5 merdeka (tidak dijajah, diperintah, atau tidak dipengaruhi oleh negara lain atau kekuasaan asing); 6 tidak terdapat (didapati) lagi: negara kita belum bebas buta huruf; daerah ini sudah bebas cacar; 
(Sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia [http://kbbi.web.id/])
Lalu karena definisi itulah, Karina banyak bertingkah waktu SMA. Bahkan tidak jarang, Karina berselisih dengan Mama dan Baba, terkait kebebasan dalam memberi argumen pada sebuah masalah (yang ujung-ujungnya berakhir dengan melawan perkataan mereka), menentukan jam pulang sendiri, membuat berbagai keputusan tanpa terlebih dahulu membicarakannya dengan mereka, dan… masih panjang listnya dan jika semua terungkapkan, mungkin Anda akan illfeel dengan masa lalu Karina. Hahahaha.
Intinya, Karina sudah lama menapaki jalan dalam mencari tahu arti kebebasan itu. Mungkin dulu dan awal-awal kuliah aku dengan dangkalnya menganggap kebebasan yang sebenarnya adalah ketika diberikan izin untuk bersenang-senang melakukan apapun yang aku inginkan seperti berjalan-jalan tanpa dibatasi waktu dan tempat, atau nonton dan baca buku tanpa diinterupsi oleh kewajiban berupa pekerjaan rumah yang harus dituntaskan.
Kemudian baru aku sadari, dalam melakukan hal-hal tersebut, aku seolah-olah diperbudak oleh kemauanku sendiri. Intinya, aku masih diperbudak, masih dikuasai oleh suatu hal, meskipun hal itu adalah keinginanku sendiri. Nyambung tidak, sih? Agak menyeramkan sebenarnya, ketika kau fikir kau sebenarnya sudah bebas, tapi kau masih terjerat oleh sesuatu yang ternyata berasal dari dirimu sendiri, yaitu hasratmu. Dan keinginan yang tak tertahankan dalam memenuhi hasrat itu.
Selanjutnya, aku mencoba metode yang berlawanan, yaitu mengabaikan total keinginan-keinginan yang timbul dan bekerja keras memfokuskan diri melaksanakan kewajiban yang ada di depan mata. Tapi suatu saat, ketika tantangan sudah mencapai titik dimana aku sudah merasa gerah dan lelah sekali, dengan spontan aku memutuskan untuk keluar berjalan-jalan sendirian, tanpa arah (bukan ‘tak tentu arah’, hahahaha). 
Sejujurnya, aku masih tidak tahu apa sesungguhnya arti kebebasan itu. Mungkin usahaku saat ini, adalah memenuhi kewajiban dan keinginanku secara bergantian, tanpa ada yang mendominasi satu sama lain. Dengan begitu, tak ada di antara mereka yang akan menuntutku.
Hal yang terbaik adalah ketika kewajiban yang orang lakukan merupakan sesuatu yang memang mereka inginkan, contohnya mencintai profesi yang dimiliki. Mungkin, di pikiranku, orang-orang tersebutlah yang merupakan orang yang benar-benar bebas.

11.12.2013

Saya adalah perahu yang terombang-ambing di laut. Saya sudah diluncurkan ke laut namun saya dibiarkan terombang-ambing tanpa diarahkan. Saya hanya butuh satu orang yang berani mengarahkan saya, yang terombang-ambing. Dan nampaknya saya masih menunggu, karena saya belum dinaiki oleh si pemberani itu. Pemberani itu belum menemukan saya. Selama ini hanya beberapa yang menaiki perahu ini, namun karena ketidakyakinan yang mantap, nereka semua kembali ke daratan. Karena daratan memungkinkan mereka untuk berdiri kokoh, tidak ikutan terombang-ambing oleh arus laut, yang saat ini sedang saya rasakan.