12.28.2013

Halo.

Apa kabar?
Aku menanyakan kabar diriku yang terakhir kali menulis sebelum pos ini. Diriku yang saat itu, pastilah tidak sama dengan diriku yang sekarang, sedikit berbeda setidaknya. Aku percaya, sehari-hari melalui interaksi-interaksi kecil dengan lingkungannya atau pengaruh media massa, manusia pasti mengalami perubahan kecil dalam dirinya. Tak terkecuali diriku juga. Semoga menuju ke perubahan yang lebih baik.

Maafkan aku jika aku mulai menelantarkan blog ini, karena sejujurnya aku memiliki blog baru. Blog baru itu aku bagi dengan seseorang, entah akan berapa lama kita berdua akan merangkaikan kata-kata. Namun, kebebasan yang sesungguhnya tentu saja aku rasakan ketika menulis sendiri disini. Karena tempat ini telah menerima diriku apa adanya sekian lamanya, sejak aku hanya bisa mengeluh tentang kegiatan sekolah yang harus aku ikuti, berceloteh tentang masalah persahabatan,'percintaan' belaka, dan masalah yang kini terlihat lucu dan sepele, hingga urusan berkuliah dan pencaharian jati diri yang bermoral. Sungguh, aku bersyukur telah mencatat keluh kesah dan kisah-kisahku di blog ini sekian lamanya, sebagai bentuk refleksi diri.

Aku masih di tengah menapaki jalan menuju kesuksesan. Aku sudah pernah cerita, bukan, soal berbedanya persepsi orang mengenai kata 'sukses'? Baiklah, aku ceritakan persepsiku. Bagiku, sukses adalah ketika aku dapat memanfaatkan ilmu yang selama ini kupelajari, memberi manfaat itu kepada orang-orang yang benar-benar membutuhkannya dengan sukarela, dan aku yakin, banyak sekali yang membutuhkannya. Dan yang paling penting adalah, aku ingin kesuksesan itu tercapai dengan caraku sendiri. Tentu saja, yang aku maksud bukan 'end justify means', aku tetap melaksanakannya berdasarkan hukum agamaku, negaraku, dan moral yang berlaku (semoga Allah senantiasa mengingatkanku). Yang aku maksud adalah, aku ingin kesuksesan itu tercapai melalui passionku. Passion itu bahasa Indonesianya apa, ya? Sebentar, aku cari dulu di Google Translate. Sebenarnya aku tidak terlalu percaya dengan situs itu tetapi sepertinya sudah ada sifat ketergantungan yang sudah menjamur.

Baiklah, disini passion diartikan sebagai 'gairah', 'semangat', 'kegemaran', atau 'cinta birahi'. Oke, dengan penuh keyakinan, yang aku maksud tentu saja tidak ada hubungannya dengan istilah terakhir itu, walaupun tentu saja semua orang memilikinya tetapi tidak semua bisa mengontrolnya, menyalurkannya atau menyembunyikannya dengan baik *wink*. Aku ingin sukses yang aku definisikan melibatkan sesuatu yang aku gemari. Yang aku dengan sungguh-sungguh senang hati melakukannya, bukan karena aku berusaha mengikuti jejak orang yang sukses secara umum, atau memuaskan kemauan orang lain, termasuk orangtuaku. Tapi aku yakin, mereka akan turut bangga padaku. Mengapa? Karena sukses juga menurutku, tercapai hanya jika ia diraih menggunakan seluruh potensi yang ada dalam diriku. Dan mereka akan bangga, karena mereka termasuk orang-orang yang telah berkontribusi besar bukan main dalam menanamkan potensi-potensi itu. Setiap individu memiliki potensi yang berbeda, bukan? Itulah makanya, setiap dari kita akan sukses dengan caranya sendiri yang pasti unik dari yang lain! Jadi berhentilah berusaha menapaki jalan menuju kesuksesan dengan cara yang sama dengan orang lain, apalagi jika menurutmu hal itu menenangkan bagimu, karena kau pasti berpikir cara itu menjamin untuk meraih kesuksesan itu. Apalagi jika kau menapaki jalan itu hanya untuk meraih arti kesuksesan orang lain. Aku memang belum sukses, tapi aku sangat yakin, meraihnya butuh keberanian. Jadi, jika kau merasa kau belum berani, maka kau masih sangat jauh dari tujuanmu.

Sukses. Mengeluarkan segala potensi yang ada dalam diriku, sehingga menciptakan potensi-potensi baru. Lalu kupakai potensi-potensi baru itu menuju sukses yang baru. Dan begitulah siklusnya berjalan. Semua, tentu saja, kugunakan demi kebaikan orang-orang di sekitarku. Demi agamaku, negaraku. Semoga aku bermanfaat.

Aku masih jauh, sepertinya. Tapi untunglah aku menyadari itu.